Sebuah Pelajaran Hidup dari Pery

Tak ada yang pernah menyangkal rumus kehidupan ini : Tekad bulat mengejar mimpi, ditambah kekuatan semangat, kerja keras dan doa akan berbuah manis pada akhirnya.

Pelajaran hidup ini tak saya dapatkan dari buku motivasi atau film The Secret, tapi dari seorang supir travel yang mengantar saya dalam perjalanan 5 jam ke Kota Rengat, Indragiri Hulu, Riau akhir pekan lalu.

Pery namanya, 31 tahun. Dia baru 20 hari menjadi supir travel Assa di Pekanbaru. Dari logatnya yang beraksen Karo, semua pasti menebak dia orang Batak. Ditambah lagi perawakan yang gempal dan rahang yang keras membuat orang gentar melihatnya.

Padahal aslinya dia keturunan Jawa. Kakek dan ayahnya berasal dari Purwokerto puluhan tahun yang lalu saat mereka ikut program transmigrasi ke daerah Kisaran Pematang Siantar, sekitar 5 jam dari kota Medan.

Kita langsung ke cerita hidupnya, 7 tahun yang lalu di Medan, saat Pery muda sedang galau. Dia bosan dengan kemiskinan dan ingin merubah nasib. Tujuannya satu : Ibukota Jakarta. Mimpinya menjadi orang sukses. Tekadnya rupanya sudah tak bisa dibendung. Pery muda sangat bersemangat hingga tak ada yang bisa menghentikannya termasuk kedua orang tuanya.

Berbekal sebuah tas usang berisi sepasang baju dan celana, sarung serta uang 40 ribu rupiah dia capcus ke Jakarta, menumpang tetangganya, supir truk yang kebetulan rutenya saat itu menuju Merak, Banten.

Singkat cerita, sampailah truk itu di pelabuhan Merak. Truk berhenti dan bongkar muat disana, sehingga Pery harus melanjutkan lagi perjalanan ke ibukota. Tak ada alamat lengkap kerabat yang dia kenal bekerja di Jakarta. Yang dia ingat, mereka tinggal di daerah pasar minggu.

Jarak Merak- Pasar Minggu yang normalnya bisa ditempuh kendaraan tak sampai sehari, dijalani Pery hingga 8 hari karena dia benar-benar buta Jakarta.

Sampai disini ceritanya mulai seperti sinetron kisah perantau. Kisah selanjutnya bisa ditebak, seperti kata peribahasa, sejahat-jahatnya ibu tiri masih lebih jahat ibukota. Begitupun yang dialami pria nekat ini.

Mulai dari numpang tidur dari mesjid ke mesjid, diusir karena dikira mau maling kotak amal, hingga disiram air oleh penjaga mesjid jam 5 pagi. Mulai dari ditolak kerja karena dianggap kriminal hingga jadi kenek Metro Mini S75 dan akhirnya naik pangkat jadi supir Metro Mini.

Ini Jakarta bung! Kota keras untuk para pendatang dari desa. Dilempar kunci roda oleh majikan karena setoran kurang itu sudah biasa. Makan hanya sehari sekali saat siang, pagi cukup dengan teh hangat dan sebungkus roti. Malam belum tentu makan, tergantung sisa setoran.

Ajibnya, selama itu dia tak pernah mengeluh. Petuah sang ayah selalu terngiang di telinganya : “Jangan pernah mengeluh selama kamu masih hidup!” “Saya mau ngadu sama siapa pak, gak punya siapa-siapa di Jakarta. Tiap habis dilempar kunci atau digebukin sama senior saya shalat. Cuma ke Tuhan saya bisa menangis dan mengadu”.

Di tengah ratapannya, Pery masih tetap yakin satu hari mimpinya akan terwujud, nasibnya akan berubah lebih baik, bisa makan tiga kali sehari sehingga badannya yang kurus kering bisa gemuk dan kembali ke kampung dengan kepala tegak karena berhasil mengubah hidup. Bisa beli baju yang bagus tanpa harus takut hilang, karena untuk membeli baju baru dia harus menabung 3 bulan.

Setelah 3 tahun di Jakarta, dia ditawari kenalannya menjadi supir perusahaan vendor telekomunikasi. Rasa ingin tahunya membuat dia sering ikut membantu hingga akhirnya dipercaya menjadi tenaga lapangan, memasang BTS operator di tower. 

Pekerjaan baru itu membuat kehidupannya lebih baik dan membawanya kembali ke kampung halamannya di Medan setelah bertahun-tahun menghilang. “Peerryy..Alhamdulillah kamu masih hidup nak!”, teriak mamaknya saat dia berdiri mematung di depan pagar rumahnya. Pery si anak hilang telah kembali.

Kini, Pery sudah bisa mengerjakan proyek pemasangan BTS di tower secara freelance dengan nilai proyek puluhan juta rupiah. Namun kegiatan freelancenya terhenti sementara karena menunggu kelahiran anak pertamanya. Dia memilih menjadi suami siaga dan tak jauh jauh dari Pekanbaru.Jika menerima proyek pemasangan BTS dia harus pergi berbulan-bulan dan meninggalkan istrinya. “Sementara vacum dulu. Dan daripada bengong di rumah saya terima tawaran menjadi driver Assa sementara ini hingga bayinya lahir. Tidak masalah, toh dulu saya juga sopir Metro, dan yang penting halal,” tegasnya.

Akhir cerita Pery memang tak klimaks. Dia tak serta merta jadi jutawan seperti di sinetron tivi karena hingga kini dia pun masih mengejar mimpinya. Tapi ada sebuah pelajaran berharga dari pengalaman hidupnya yang keras menaklukan Jakarta. Jaga semangat, pantang menyerah dan terus berdoa. Satu lagi, jangan berhenti bermimpi.

Rengat, 21 Oktober 2012
Jojo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: