Lampu Oranye Sudah Menyala, Siap Siap !

Pagi tadi si mpok sayur mengeluh, harga-harga naik, pembeli menurun. Siangan mampir di warung nasi uduk, dapat curhatan yang sama dari bang Joni, kang ojek yang mangkal deket rumah. Isinya sama, soal BBM naik, TDL naik, beras naik, telor naik, gak ada yang turun. Sementara pendapatan segitu-gitu aja, masih untung gak turun.

Miris memang kondisinya. Ya begitu deh, mau ngomong apa lagi. Itulah situasi yang sedang kita hadapi di ekonomi riil bangsa kita. Optimisme mendadak terhenti. Pesimisme mulai bersemi. Ekonomi kita sudah lewat dari lampu kuning (hati-hati), sekarang lampu oranye sedang menyala. Artinya, Siaga dan Waspadalah. Begitu kata Paulus Bambang W. Santoso, Dirut PT United Tractors Tbk lewat tulisan di blognya www.paulusbambangws.com soal kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Saya dapat link tulisan beliau dari whatsapp seorang kawan.

Lewat tulisannya, dia tidak bermaksud untuk sok berlagak jadi begawan ekonomi yang mengkritisi kebijakan pemerintah, menakut-nakuti atau bahkan menjadi motivator agar ekonomi bergairah kembali. Tapi hanya berbagi, bagaimana mempersiapkan diri agar tetap survive (bertahan) saat krisis ekonomi terjadi. Prinsipnya, agar jika ekonomi bertambah buruk, kita menjadi orang terakhir yang terkena dampak. Tapi jika ekonomi membaik kita jadi orang pertama yang menikmatinya. Saya kutip lagi nasihat beliau :

Pertama, PERKETAT PENGELUARAN. Tunda yang tidak perlu, kurangi yang perlu, batalkan yang hanya berupa keinginan. Dalam kondisi semua serba sulit, jangan harap naik gaji, semua perusahaan pun sedang kesulitan mengatur cash flow. Karena pendapatan akan semakin sulit bertambah, itu sebabnya yang bisa meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga adalah mengurangi pengeluaran. Caranya : matikan lampu yang boros, kurangi jajan diluar, stop investasi walaupun diskon yang ditawarkan menggiurkan.

Kedua, LUNASI HUTANG. Secepatnya. Apalagi jika pakai kartu kredit, atau kredit tanpa agunan, bunganya besar sekali. Ingat dalam kondisi krisis, bunga hutang akan membunuh anda pelan pelan karena orang yang berhutang akan menjadi budak orang yang menghutanginya.

Ketiga, ALOKASI TABUNGAN anda ke sumber pendapatan yang terdiversifikasi dengan baik, entah itu deposito, saham, tanah, properti, atau mata uang asing.

Keempat, berani CUT LOSS kalau investasi anda sudah menurun misalnya properti atau saham. Ketika ekonomi tumbuh baik banyak orang bahkan berani berhutang untuk spekulasi. Dalam kondisi lampu oranye, konsep ini harus diamputasi.

Kelima, JANGAN PARANOID. Jangan panik tapi tetap optimis meski harus selalu waspada. Perbanyak uang cash dan tabungan likuid. Karena ketika kondisi semakin memburuk anda bisa membeli asset dengan harga sangat miring, orang yg BU alias BUTUH UANG akan mendiskonto dengan besar. Kesempatan bagi anda memiliki aset produktif dengan harga sangat miring.

“Dalam kondisi sulit. Cash is King, Dalam kondisi resesi, Cash is Caesar,” kata Paulus. Semoga kita semua akan muncul sebagai VICTOR dan bukan VICTIM dari lampu oranye ini.Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: