Semeleh itu Awal Kekayaan

Seringkali kita mencoba mengakali Tuhan agar doa kita dikabulkan. “Tuhan, kalau hamba diberikan rejeki yang segini-gini aja, hamba gak bisa bantu orang lain yang membutuhkan, anak yatim, fakir miskin, orang yang kesulitan. Jadi kasihlah rejeki yang banyak, ya Tuhanku.” Ngaku deh, pernah kan, atau jangan-jangan malah sering.

Saya sih mau ngaku aja, doa seperti itu sudah sering sekali meluncur. Analoginya, kalau anak kita minta uang jajannya ditambah dengan alasan dia berbagi jajannya untuk sosial, masa gak dikasih. Jadi, meminta kepada Tuhan yang Maha Kaya agar kita cepet kaya biar bisa membantu orang lain yang kesulitan dan sejuta alasan mulia lainnya, masa sih juga gak dikasih. Kan Tuhan Maha Pengasih?

Nyatanya, ya gak dikasih sama Tuhan. Gak semudah itu ternyata deal sama Yang Maha Kuasa. Masa Tuhan mau dikibulin lha wong Dia Sang Maha Tau, apalagi soal isi hati dan otak kita yang licik.

Lalu gimana dong. Belasan tahun berdoa blom ada hasilnya. Udah semua gaya doa dipraktekkan. Mau doa yang blak-blakan, doa gaya mengancam, doa sambil meratap,sampai doa yang berkedok alasan mulia itu. Toh blom mempan juga. Hidup kita ya begini-begini aja.

Masih terbengong-bengong memikirkan bagaimana doa cepet kaya saya dikabulkan, saya tercerahkan  saat membaca artikel parodi-nya Samuel Mulia di Kompas Minggu (21 Juni) berjudul Rezeki.

Dia bilang, kita lebih sering akrab dengan kata Tidak Cukup daripada Cukup. Kita seringkali tidak merasa cukup dalam segala hal. Kita selalu ingin memiliki lebih dari apa yang kita miliki sekarang ini.

Saya ingat waktu pernah bergaji 1,5 juta jaman dahulu kala saat baru mulai kerja, saya berdoa supaya mendapat gaji 2,5 juta supaya 1 jutanya bisa saya tabung dan sebagian untuk sedekah. Nyatanya, waktu gaji saya 2,5 juta tetep gak bisa nabung. Janji mau sedekah juga udah lupa. Begitu seterusnya setiap naik gaji. Tuh, manusia.

Seorang sahabat bilang, Manusia memang gak akan bisa merasa cukup. Udah dari sononya, begitu kodratnya. Gak pernah puas. Gaji naik gaya hidup naik juga, malah seringkali gaya hidupnya naik duluan.

Tapi agar hidup lebih tentram, manusia bisa belajar bersyukur. Istilah Jawanya, Semeleh. Artinya meletakkan hati, agar kita tidak gerundel aja, dan ikhlas dalam bekerja dan berbuat, yang semoga menjadi nilai ibadah bagi kita. Menerima segala sesuatu apa adanya, lentur dan fleksibel menghadapi keadaan, dan ikhlas atas takdir Tuhan.

Seperti saya kutip dari Samuel Mulia di  artikel Kompas itu, “Yang perlu itu, harus belajar bersyukur. Orang yang bersyukur untuk setiap hal kecil yang dia dapatkan bakal makin dikasih rezeki sama Tuhan”.

Jadi semeleh itu awal kekayaan kan? Mmmh boleh dicoba!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: