Mau Bisnis, Jangan Tunggu Pensiun

Membangun bisnis sendiri, siapa yang tak mau. Tapi belum apa-apa banyak pertanyaan muncul di kepala.  Kapan mau mulai ya, nyicil dari sekarang atau kumpulin duit dulu mulainya nanti pas pensiun? Mulainya darimana ya? Kemungkinan berhasilnya gimana ya, kalau gagal gimana?

Yang jelas, ada yang berhasil, tapi tak sedikit yang gagal. Meski tak punya datanya, saya mengklaim persentase yang gagal pasti jauh lebih banyak daripada yang berhasil. Itu hukum alam. Di buku-buku motivasi sih keliatannya berbisnis itu gampang. Cot !

Pebisnis yang sukses pun perlu proses dan perjalanan panjang, jatuh dan bangun sebelum bisnisnya mencapai level stabil dan mendapatkan keuntungan memadai. Gak ada jalan pintas, Bor! Ya, kecuali kalau lo lahir dari keluarga konglomerat. Born from the silver spoon, istilah kerennya.

Kata mereka yang sudah sukses, modal uang sebenarnya relatif, yang mutlak dipunyai adalah modal mental menjadi pengusaha, yaitu berani mengambil resiko, kreatif melihat peluang dan pantang menyerah. Lagi-lagi, teorinya gampang ya, padahal ngejalaninnya setengah modar !

Saya merasakan sendiri modarnya belajar jadi pebisnis. Kalo ada tingkatan mungkin level saya masih basic, bertahun-tahun masih aja SD. Belajar mengelola bisnis bengkel resmi Honda bersama partner baru berjalan 5 tahun. Bertanam pohon jati dan sengon untuk investasi jangka panjang baru 2 tahun jalan, dan sekarang baru mulai menyiapkan butik pakaian.

Jangan tanya untungnya. Baru nutup operasional dan cicilan ruko saja sudah syukur. Cobaan tak permah berhenti. Keluar masuk karyawan itu hal biasa. Ditipu orang, dikerjain karyawan, duit dibawa kabur kasir, disatronin preman, pusing tiap jelang THR adalah beberapa risiko bisnis yang harus dialami dalam kurva belajar (learning curve) yang tidak bisa dipelajari di sekolah manapun.

Satu hari, saya melihat tayangan program televisi sebuah perusahaan multinasional tentang Masa Persiapan Pensiun (MPP) untuk karyawannya. Agak miris, karena program MPP yang umumnya diberikan ke karyawan yang segera pensiun itu, hanya pembekalan membuka bisnis. Terlihat manisnya dan mudahnya membangun bisnis. Risiko bisnisnya tak terlalu kelihatan. Jadi wajar kalau bisa dihitung jari berapa orang pensiunan yang berhasil jadi pengusaha hebat. Karena mereka tidak siap secara mental untuk jadi pebisnis, setelah bertahun-tahun mateng jadi pekerja.

Jadi, ada baiknya memulai bisnis di usia jauh sebelum pensiun. Paling telat di umur 30-40 tahun supaya masih ada waktu cukup panjang bereksperimen dengan stamina yang masih full. Jadi di umur pensiun 55 sudah menikmati hasil usaha, bukan malah baru mulai usaha. Karena stamina juga sudah gak fit lagi, belum lagi post power syndrome yang tidak produktif.

Nah kalau kita sekarang masih bekerja, siapa yang jalanin bisnis kita? Bisa pasangan, atau kerabat dan teman yang kita percayai. Memang perlu waktu dan tenaga ekstra untuk pekerja yang memulai usaha agar enggak mengganggu komitmen ke perusahaan.

Pastikan juga enggak ada benturan kepentingan dengan tempat kita bekerja sekarang. Etika profesional kan harus tetap kita jaga, sehingga  enggak ada waktu kerja yang kita habiskan untuk urusan bisnis pribadi. After office hour atau weekend bolehlah dikebut urusan berbisnis. Saat jam kerja, jangan !

Satu lagi, jangan lupa sabar dan berdoa. Karena tak ada candi yang selesai dibangun dalam semalam.

Advertisements

One thought on “Mau Bisnis, Jangan Tunggu Pensiun

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: