Hanya Setitik Hitam di Kertas Putih

Di suatu hari yang fitri, aku berkeluh kesah kepada seorang sahabat, tentang masalah yang tengah kuhadapi. “Secara logika hal ini gak masuk akal bro, kecewa gua, ini diluar harapan! Secara matematis ini gak masuk hitungannya, gak adil bener, speechless lah gua!” Mukaku berkerut, mata sudah merah berair menahan marah dan kecewa yang dalam.

“Ya… Gue ngerti apa yang elu alamin,  enggak hanya elu, gue pun sendiri pernah mengalami dan mungkin banyak orang lainnya,” jawabnya berempati.

“Nah sekarang gue akan ambil satu kertas putih kosong dan gue tunjukkan ke elu. OK sekarang apa yang elu lihat?” tanya sang sahabat.

“Gue gak melihat apa-apa sob, semuanya putih,” jawabku lirih.

Sambil mengambil spidol hitam dan membuat satu titik ditengah kertasnya, sahabatku berkata, “Nah… sekarang gue udah beri sebuah titik hitam diatas kertas itu. Sekarang gambar apa yang elu lihat?” “Gue melihat satu titik hitam”, jawabku cepat. “Pastikan lagi !”, timpal sahabatku. “Titik hitam,” jawabku mulai meninggi. Kesal karena tidak mengerti apa maksudnya.

“Sekarang gue tahu penyebab masalah elu. Kenapa elu hanya melihat satu titik hitam saja dari kertas tadi? Cobalah rubah sudut pandang elu. Menurut gue, yang gue lihat bukan titik hitam tapi tetap sebuah kertas putih, meski ada satu noda didalamnya.  Gue melihat lebih banyak warna putih dari kertas tersebut, sedangkan kenapa elu hanya melihat hitamnya saja, padahal itupun hanya setitik?” jelas sahabatku dengan lantang.

“Sekarang elu ngerti nggak? Dalam hidup, bahagia atau tidaknya hidup elu tergantung dari sudut pandang elu memandang hidup itu sendiri. Kalau elu selalu melihat titik hitam tadi yang bisa diartikan kekecewaan, kekurangan dan keburukan dalam hidup maka hal-hal itulah yang akan selalu hinggap dan menemani dalam hidup elu, bro.”

Aku tertegun. Tumben juga ini kawan lebih waras dari gue. Ah, that’s what a friends for. Menjadi lebih waras saat temannya sedang butek pikirannya.

Aku kini bersyukur karena bisa melihat dari sudut pandang yang lebih optimistic. Ternyata masalah ini hanyalah satu titik cobaan dari sekian banyak rizki dan berkah yang diberikan Tuhan kepadaku. Akupun segera mengambil air wudhu dan berdoa, “Ya Allah ya Tuhanku jadikan hambamu yang penuh dosa ini menjadi pribadi yang ikhlas dan selalu mensyukuri nikmat yang Engkau berikan, dan mudahkanlah hamba menyelesaikan cobaan hidup yang sebenarnya hanya setitik dibandingkan limpahan berkah yang engkau berikan. Amin.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: