Mengelola Gaya Hidup di Masa Krisis

Sekarang ini hidup makin mumet. rupiah liar tak terkendali, bunga cicilan rumah naik gak kira kira, harga barang melambung jauh. Belom pengeluaran dari gaya hidup metropolitan. Padahal, pendapatan ya segitu-gitu aja.

Yayaya..okelah bagaimanapun harus bersyukur kita masih punya pekerjaan dan penghasilan. Sementara banyak nasib yang lebih ngenes, ribuan pekerja sudah diputus kontraknya, Beberapa multinasional dan BUMN sudah tawarkan program pensiun dini untuk para senior yang kurng produktif dan ribuan fresh graduate antri mengular di job fair. Seorang kawan di sebuah NGO asing bahkan sudah dua tahun terakhir tidak ada kenaikan gaji sama sekali dan sekarang terancam putus kontrak karena berkurangnya suntikan donator.

Ya itu masalah mereka yang jauh lebih pelik. Lalu kembali ke masalah mumet tadi. Pertanyaannya, gimana caranya bisa survive melewati masa sulit ini?

Sebuah artikel di Koran Kontan hari ini menarik perhatian saya untuk dibagikan ke teman teman. Kolom analisis perencana keuangan Wiwit Prayitno, menyoal biaya hidup dan gaya hidup. Kata dia, kunci perencanaan keuangan pribadi adalah bagaimana mengelola pendapatan dan pengeluaran sehingga kita masih memiliki sisa untuk disimpan. “Jangan biarkan gaya hidup jadi tujuan, karena biaya hidup itu sebenarnya murah, yang mahal itu gaya hidup,” tegas Wiwit.

Nah rupanya dia tau orang-orang pun sedang banyak yang mumet. Wiwit memberikan tips mengatur biaya hidup tapi saya modifikasi sedikit. Begini, begitu gajian masuk, langsung alokasi ke dalam empat pos.

Pos pertama, Pay Your God First. SEDEKAH, bayar zakat, dll yang urusannya sama Tuhan. Percaya deh, sedekah melancarkan rejeki. Prinsip itu ada di agama manapun kok.

Pos kedua, BAYAR HUTANG, terutama hutang kartu kredit, KTA, dan semua hutang bank yang bunganya bikin mules. Usahakan jangan minimum payment, karena dijamin gak akan kelar-kelar. Kalau sudah lunas, tutup dan gunting kartu kredit itu.

Pos ketiga, sisihkan untuk KEBUTUHAN SEHARI-HARI. Di listing lagi yang memang menjadi kebutuhan, dan bukan keinginan. Bedanya tipis sih. Cara bedainnya, keinginan adalah sesuatu yang bisa saja kita tunda, kebutuhan gak , udah kudu, wajib. Misalnya bayar listrik, beli beras, bayar iuran sekolah anak, itu kebutuhan, tapi beli gadget baru, tas, sepatu, baju baru mungkin hanya sebuah keinginan yang perlu diberikan prioritas terakhir.

Pos keempat, Kalau masih ada sisa, tabungin untuk DANA DARURAT. Nah ini yang kebiasaan yang jarang banget dilakukan. Biasanya kalo ada sisa langsung dibawa ke mall buat menebus keinginan-keinginan kita diatas. Dana Darurat seyogyanya harus terkumpul 3 x pengeluaran rutin bulanan kita, untuk yang lajang. 6 x untuk keluarga kecil tanpa anak, dan 12 x untuk keluarga yang sudah punya anak. Sebaiknya dana darurat dimasukan dalam investasi yang likuid seperti reksadana atau emas, jadi bisa berkembang tapi mudah dicairkan sewaktu-waktu diperlukan.

Sepertinya mengelola biaya hidup memang lebih mudah ya? Yang lebih sulit justru bagaimana mengelola gaya hidup, mengerem keinginan dan mengutamakan kebutuhan. Ayolah, biar hidup gak makin mumet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: