Semangat Gambaru yang Patut Ditiru

Di sebuah lapangan di Asakusa, Tokyo. Seorang anak perempuan berusia sekitar 4 tahun nampak dipukuli pantatnya. Kedua tangannya ditarik-tarik dengan keras oleh gurunya. Mereka sedang latihan drumband. Anehnya, si anak tidak menangis, justru berteriak dalam bahasa Jepang (entah apa artinya) sebagai penyemangat untuk memperbaiki kesalahannya. Sementara di seberang lapangan, terlihat ibu dari si murid memperhatikan. Bukannya marah terhadap guru, justru ia tersenyum, dan malah menyemangati buah hatinya.  Dalam hati, kalau di Indonesia tindakan seperti itu pasti sudah kena jeratan pasal kekerasan terhadap anak.

Itu cerita kawan saya, Nazar Ray, seorang wartawan Indonesia yang sedang bertugas liputan ke Jepang. Dia pun kemudian mencari tahu mengenai fenomena itu lewat orang Indonesia yang sudah 15 tahun tinggal di Jepang.

“Oh di Jepang itu sudah biasa mas, dari kecil sudah dididik keras, dan diajarkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Makanya mentalnya jadi bagus keika besar. Kalau mas lihat di jalan, banyak anak kecil-kecil usia TK disuruh jalan, tidak digendong orang tuanya. Padahal jalannya cepet dan jauh banget lho ! Anak-anak kecil itu tidak rewel atau nangis saat disuruh jalan orang tuanya,” terang Riri, wanita Indonesia yang bersuamikan orang Jepang, dan hampir 20 tahun menetap di Tokyo.

“Dua kali saya ke negara ini. Ini negeri yang luar biasa. Negara yang hanya punya sumber daya alam terbatas, namun mampu bangkit dan maju luar biasa, serta punya mental sekuat baja. Semuanya berkat falsafah Gambaru,” cerita Ray.

Kata “GAMBATTE” berasal dari 頑張る GANBARU. Dan karena [N] bertemu [B], maka lafalnya berubah GAMBARU. Karena sering dipakai sebagai kata seru, dan bernada meminta, memohon atau memberi perintah pada lawan bicaranya, maka berubah bentuk menjadi GANBATTE, dan dilafalkan GAMBATTE. Dan ini sebetulnya adalah cara seseorang untuk menyemangati lawan bicaranya. Jika diucapkan lengkap menjadi GANBATTE KUDASAI 頑張ってください.

“Gambaru”, bermakna berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang. Atau pasrah terhadap keadaan. Menurut kamus bahasa Jepang, gambaru itu artinya: “Doko made mo nintai shite doryoku suru”. Jika diterjemahkan bermakna, “Bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha habis-habisan”.

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter, yakni “keras” dan “mengencangkan”. Jadi makna yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah: “Mau sesusah apapun persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri.

Dalam keseharian orang Jepang, tidak terbatas pada besar kecilnya kejadian atau peristiwa yang akan dilakukan orang lain, gambaru ini acap kali diucapkan. Jadi, jika menurut pembicara, lawannya akan melakukan yang pembicara belum tentu bisa melakukannya, kata gambaru itu dipakai untuk memberi semangat pada lawan bicaranya.

Tujuannya, agar kita bisa menang atas persoalan yang membelit. Di sini maksudnya, jangan manja! Anggaplah semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup.Namanya juga hidup memang pada dasarnya susah. Jadi, jangan berharap segalanya mudah. Persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan Gambaru. Titik, gak pake koma.

Adik saya, Mutiara (30) yang tinggal di Jepang selama 2 tahun terakhir bercerita, anaknya Rafan San (6) sejak TK sudah diajarkan falsafah Gambaru. Taihen (susah/sulit) itu biasa disini, gak boleh manja. “Mau cuaca panas atau dingin bersalju, angin kencang, hujan lebat harus tetap semangat Gambaru,” kata dia. Apalagi Rafan San umurnya paling kecil di kelas, paling lama lari, paling lama makannya, paling susah ngomong karena satu-satunya asal Indonesia lainnya orang Jepang aselik. Jadi paling sering disemangatin “Gambattekudasai” oleh guru dan teman-temannya.

Menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan Tuhan tidak ada dalam kamus mereka. Mental Samurai berjuang sampai mentok tok berdarah darah dalam menghadapi segala persoalan hidup. Motto “Gambattekudasai” (ayo berjuang lebih lagi) merasuk ke semua negeri Matahari Terbit ini, sehingga semua orang saling menyemangati satu sama lain, “Taihen dakedo, isshoni gambarimashoo” (saya tahu ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama). Bahkan menyemangati diri sendiri mereka dengan mengatakan: GANBATTEMASU!! がんばってます!!

Sekarang kembali ke diri kita. Hidup memang selalu penuh tantangan dan target yang jauh dari kemampuan kita. Tapi sejarah sudah membuktikan, Nothing impossible. Jangan pernah menyerah dan berkeluh kesah. Tiru semangat Gambaru. Gambattekudasai !

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: