Alla Noia di Otak Kanan Kita

Anda penggemar gulai otak, lebih suka mana otak kanan atau otak kiri? Susah menjawabnya ya, karena tetap sama enaknya. Tapi kalau ditanya kenapa anda suka gulai otak pasti lebih mudah, karena otak kiri kita sudah langsung menyiapkan puluhan jawaban.

Bicara otak kanan dan otak kiri memang menjadi bahan perbincangan yang menarik saat ini, di jaman ekonomi kreatif yang sedang booming, dimana penggunaan otak kanan dituntut untuk lebih dimaksimalkan.

Adalah Prof.Roger W. Sperry dari University of California, pemenang Nobel for Medicine / Physiology tahun 1981, yang meneliti mengenai Brand Dominant ini. Penelitiannya menyimpulkan otak manusia terdiri dari dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda namun mendukung satu sama lain. Otak kiri berhubungan dengan angka, kata, garis, daftar, logika dan analisa. Sementara otak kanan berisi ritme, warna, bentuk, peta, imajinasi dan lamunan.

Lalu apakah anda dominan otak kanan atau otak kiri? Coba saja anda baca dan terjemahkan puisi dibawah ini :

Kalimat yang muncul pertama kali di otak anda kemungkinan besar adalah bahasa apa ini, Prancis atau Italia?  Apa dan siapa Alla Noaia?  Siapa pengarang puisi ini? Apakah ini puisi tentang cinta? Ada kata Dolce seperti merek fashion ternama Dolce & Gabana, apakah arti Dolce?

Itulah sang otak kiri yang selalu mengkritisi apapun. Saya yakin tak cukup 10 menit untuk memikirkan pertanyaan pertanyaan yang keluar itu. Sementara otak kanan tak bergeming.

Sekarang, coba test pada anak anda yang masih kecil. Anak-anak kan dikenal penuh daya khayal. Otak kanannya masih sangat aktif dengan kreativitas daripada otak kiri yang memproses logika. Cobalah. Mereka akan memprosesnya berbeda.

Puisi yang saya dapat saat training Creative Writing oleh mas Harry Surjadi mantan wartawan senior Kompas ini saya berikan ke dua bocah saya yang masih dibawah 10 tahun, Pawpaw dan Piwpiw.

“Paw, Piw, Ayah punya tantangan nih, mau gak?” Mata kecil mereka yang sudah mulai ngantuk kembali berbinar. “Mau..mau, Yah!” Saya mengambil dua buah kertas dan ballpoint untuk mereka.

“Ayah punya puisi ini, entah bahasa apa, ayah enggak ngerti juga, kalian buat puisi dari ini, terserah bagaimana gak ada aturannya,” saya menjelaskan.

Sambil tertawa-tawa geli sendiri mereka mulai menulis. 10 menit saya berikan waktu. Ayah dan mamanya dilarang mereka untuk melihat. Rahasia, katanya. Masih sambil cekikikan. Sepertinya ini permainan yang mengasyikkan buat keduanya.

Kami menunggu dan 10 menit selesai. Berikut adalah hasil terjemahan puisi itu :

Anak-anak tak punya beban untuk mencari logika. Dunia di otak kanannya lebih mengasyikkan. Kita perlu melatihnya agar otak kanan mereka tidak pasif ketika mereka semakin beranjak dewasa. Kita sendiri perlu mengaktifkan kembali otak kanan kita agar hidup kita punya rasa. Mmhh..saya jadi berkhayal, andai saja mengaktifkan otak kanan semudah makan gulai otak yang lezat di rumah makan padang. Yummy..

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Advertisements

One thought on “Alla Noia di Otak Kanan Kita

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: