Bergojek 25 km di Jakarta yang Macet

Aku berharap pagi ini tidak hujan karena ini pertama kali saya naik Gojek dengan rute yang cukup jauh, Ciputat – Wahid Hasyim. Kira kira 24.6 km tertulis di aplikasi Gojek. Terbayang kemacetan keluar dari pinggiran Jakarta menuju pusat Jakarta. Sepertinya bakal lumayan pegal di atas jok. Saya tidak tahu si abang Gojek bersyukur atau mengeluh dengan jaraknya tapi ongkosnya sih lumayan ya Rp.67 ribu dilempengin dikit jadi Rp.70 ribu buat tips bersabar karena macet.

Saya berharap yang datang motor matic yang lebar seperti Vario, NMAX atau tipe sport touring supaya gak terlalu pegal kaki menekuk, tapi ternyata bebek Supra X edisi agak lawas. Knalpotnya berbunyi tak standard seperti ngempos karena ada lubang lain. Tapi ternyata saat gas ditarik lumayan juga larinya.

img_20170224_072139

Rute yang saya lewati bukan yang biasanya setiap hari. Menarik juga lihat pemandangan baru. “Lewat Tanah Kusir ya pak?” tanya saya. “Iya memangnya mas mau lewat mana?” “Ah enggak pak, yang cepet aja. Kan bapak sudah biasa arah Sudirman.” “Sudah jarang mas sekarang,” Nadanya datar, jadi saya masih belum bisa menebak apakah dia senang atau gak membonceng saya ke tujuan yang cukup jauh. “Kan Gojek maksimal 25 kilo mas,”lanjutnya. “Oww..saya hampor mentok dong pak ini kan 24.6 km.” Dia diam saja. Ah saya kok jadi malah merasa bersalah.

“Mas pakai Gopay atau cash, kalao Gopay bisa ada diskon lho misalnya kalau ini kan cash bayar 67 kalao Gopay bisa 50-an.” Kali ini suaranya lebih riang. Ah bicara uang mungkin membuatnya lupa jarak. Saya ikut senang. Sampai di Senayan kaki udah mulai kesemutan. Aduh. Pegel juga. tahan..tahan..

Ada hal lain yang membuat saya senang. Melihat perjalanan dari sudut pandang yang berbeda. Biasanya, dari balik kaca mobil saya agak kurang bisa berempati dengan pengendara motor apalagi Gojek. Kali ini saya bisa merasakan sisi mereka. Ini memang bukan pertama kali saya naik Gojek. Mungkin yang ketiga tapi biasanya jarak dekat saja. Karena kali ini perjalanan agak jauh jadi rasanya pun lebih berbeda. Saya juga bikers tapi mengendarai motor dan dibonceng itu sudut pandangnya beda. Bisa nengok-nengok merhatiin orang, kepoin orang di balik kaca mobil lagi ngapain, ngelirik perempuan cantik yang juga lagi dibonceng gojek atau di tepi jalan atau yang sedang naik turun di jembatan penyebrangan orang. Lho beberapa malah kok sepertinya familiar ya. Ah saya jadi berkhayal. Otak kanan yang bicara ini.

Sudah sampai di Bundaran HI sekarang. Agak lebih lega jalannya, tapi pantat mulai panas, dan paha semriwing pegelnya. Belok ke jalan Kebon Sirih dan akhirnya sampai juga di tujuan. Lega rasanya. Plong. Saya berhasil menaklukkan kemacetan Jakarta dengan Gojek dan bisa sampai tepat waktu. Hanya saya satu hal yang saya kurang sreg, baju saya bau asep.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: