Berhenti Merokok itu Susah

Smoking Kills! “Ahh itu hanya propaganda anti rokok” Merokok menyebabkan kanker, serangan jantung? “Ahh banyak yang enggak merokok juga kena kanker dan jantung” “Mati itu kan sudah pasti, merokok atau enggak juga pasti mati,” Itu kata saya saat masih menjadi perokok berat. Saya perokok aktif sejak lulus SMA dan semakin bertambah berat. Jadi kalau dihitung waktu kurang lebih 20 tahun saya menjadi perokok.

 

Sekarang sudah hampir 5 tahun saya berhenti total merokok. No Smoking, No Vaping. Emang gampang berhenti merokok? Susah!! Bayangin 20 tahun nikotin mengendap di pembuluh darah otak. Enggak gampang menghilangkan kecanduannya. Sakau itu pasti.

 

Dalam hati kecil semua perokok pasti ada keinginan untuk berhenti. Kita tahu kok merokok merugikan kesehatan. Kita tahu kok merokok bakar duit, kita tahu kok merokok itu egois, kita tahu kok merokok itu banyak mudharatnya. Tapi merokok itu nagih. Itu masalahnya. Bukan soal jantan atau gak. Kita kan bukan lagi anak ABG yang butuh eksistensi kejantanan.

 

Asem. itu rasanya mulut yang gak kena asap rokok. Apalagi kalau lagi ngopi. Waah itu teman rokok sejati. Aroma kopi bercampur asap rokok itu sejuta rasanya, bro! Saking nagihnya, kita sering tidak peduli dengan orang lain pada saat merokok, bahwa asapnya yang keluar dari mulut dan hidung kita terhirup oleh orang lain, bahkan oleh istri dan anak kita. Asapnya terhempas ke muka orang lain yang kita tidak perduli dia suka atau tidak. Yang penting kita asik. Sekali lagi, asiiikk!

 

Mau kampanye kesehatan seperti apapun gak bakal mempan. Ustad ceramahin soal rokok, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Apalagi istri yang ngomong, masuk kuping kanan aja udah gak dikasih lewat. Apalagi saya kemudian kerja di sebuah perusahaan rokok multinasional, yang produknya saya hisap. Tambah kuat alasan pembenaran untuk merokok. Wong gaji gue justru dari rokok yang saya hisap. Mau apa lo? Merdeka!

 

Tapi hati kecil masih mencoba berbisik. Pelan sekali. Kata orang hati kecil itu adalah kebenaran. Suara Ilahi. Hati kecil itu suci dan gak pernah bohong. “Heii..berhentilah merokok. Kamu sudah tau alasannya kan. Jangan mencari pembenaran terus lah,” katanya. Hanya dia yang masih berani menegur. Saya mendengarkannya sambil menghembuskan asap rokok diselingi kopi hitam. Nikmat sekali. “Kamu benar wahai hati kecil. Tapi Saya belum tersentuh kenapa saya harus berhenti merokok,” jawabku. Hati kecil terdiam. Berdoa yang terbaik untukku.

 

Terusik perbincangan diri itu, saya buka laptop. Liat YouTube soal bahaya merokok. Eksperimen orang tentang bahaya rokok. Video itu sudah saya tonton puluhan kali. Gak ada yang baru. Mataku mulai berat. Mengantuk. Saya masuk kamar untuk bersiap tidur. Ada dua wajah malaikat kecil saya yang innocent, tanpa dosa. Hati kecil kembali berbisik, “Kamu mau lihat mereka jadi orang besar, jalan-jalan bersama keliling dunia. Melihat mereka menikah. Bermain bersama cucu?” Iya, saya mau!! Kataku cepat. “Tapi bisa juga ada skenario lain. Kamu hanya jalan-jalan di rumah sakit. Masih untung kalau bisa jalan, kalau stroke gak bisa ngapa-ngapain. Mending kalau langsung mati. Selesai. Gak nyusahin orang. Terus duit yang kami kumpulkan sekarang, boro boro buat jalan jalan, pasti habis untuk dokter dan obat. Perusahaan rokok yang kamu hisap sekarang apa mau nanggung biayanya?” Merasa dapat momentum, si hati kecil nyerocos aja. Cerewet sekali. Kali ini saya yang terdiam mendengarkan.

 

Sayup-sayup hati kecil yang jadi cerewet, di depan saya gambaran dua wajah mungil tak berdosa itu begitu berharga. Semua yang saya kerjakan hari ini. Berangkat pagi pulang tengah malam adalah untuk masa depan mereka. Mereka adalah tenaga superpower saya. Saya tidak mau masa depan mereka pelan-pelan menghilang karena batang batang rokok yang saya hisap.

 

Kenikmatan sesaat, untuk penderitaan yang panjang. Kalau saya terus merokok, saya menyiapkan penyakit berat untuk saya sendiri, saya menggali kubur sendiri, dan saya akan menyisakan rumah gubuk dari kardus untuk mereka. Naudzubillah min zalik. Ya Allah jangan jadikan hambamu termasuk orang yang zalim. Apalagi zalim terhadap keluarga, terhadap istri dan buah hati tercinta. Saya tertunduk. Ada setetes air mata mengalir. Kamu benar dan menang wahai hati kecil.

 

Bismillah, demi dua wajah mungil ini, mulai detik ini juga saya niatkan berhenti merokok. Niat yang paling dalam. Saya keluar kamar. Mengambil bungkus rokok yang masih penuh itu dan buang ke tempat sampah. Saya ambil semua puluhan koleksi lighter saya yang kece-kece, buang. Saya ambil semua asbak, buang. Saya buang semua yang akan menghambat masa depan anak-anak saya.

 

Besoknya saya sampaikan ke semua teman teman perokok bahwa saya berhenti dan minta dukungan mereka untuk tidak menawarkan saya rokok dan juga mengingatkan jika saya sakau dan khilaf.

 

Hari-hari setelah itu tidak mudah. 3 bulan sakau menghilangkan efek nikotin. Tapi tekad sudah bulat. Nikotin tidak boleh menang. Nikotin tidak boleh merenggut masa depan anak-anak saya. Hari ini, hampir 5 tahun berlalu dari ketergantungan rokok. Masih panjang perjuangan merajut masa depan anak anak. Selamat berhenti merokok, untuk para Ayah bebas rokok, pejuang masa depan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: