Mengalah dan Berbagi Jalan di Jakarta

Pawpaw (9) menangis. Mulutnya merengut, matanya sembab dan menitikan air mata. Sesekali dia menjawab terbata-bata mengenai alasan dia menjegal adiknya, Piwpiw (8) saat balap lari berdua, hingga terjerembab. Anak laki-laki saya ini kena omelan karena tindakannya tidak baik dan berbahaya. Bahwa mengalah demi adiknya bukanlah sebuah kekalahan.

Mengalah. Mmhh..wejangan itu sebenarnya menampar diri saya sendiri. Saya sendiri seringkali tidak mau mengalah. Meskipun, hal itu biasanya berakhir merugikan diri sendiri. Jaman kuliah misalnya, saya pernah ditodong pistol oleh seorang reserse gegara mobilnya menyerobot antrian dan saya tidak mau mengalah. Akhirnya kami beradu mulut dan berakhir dengan todongan pistol. Dia menang, saya mengalah. Daripada di Dor.

Cerita mengenai mengalah, orang Jakarta tak pernah mau kalah. Liat saja di pagi hari, atau sore hari saat lalu lintas sedang lucu-lucunya. Mau mobil, mau motor sama saja. Mobil gak mau kalah sama motor, motor gak mau kalah dengan pejalan kaki. Trotoar pun diembat. Sesama mobil juga saling pepet. Biasanya mobil yang lebih bagus mengalah, takut lecet.

Kalau enggak ada yang mau mengalah, gesekan pun terjadi. Bukan sekali dua kali kita lihat ada pengendara yang saling berbalas sumpah serapah dari balik jendela mobil atau helmnya. Kalau emosi sudah panas, bisa turun, bak bek buk..saling bogem. Lalu lintas seperti hutan belantara. Siapa yang kuat itu yang menang. Ibarat Singa di hutan, siapa yang kenceng mengaum dia yang ditakuti. Yang penting gertak dulu. Salah benar urusan belakangan.

Saya ikutan euphoria itu. Dua bulan lalu, sama polisi lagi. Lewat jalan komplek yang ngepas satu mobil, kami berpapasan. Lagi-lagi saya tak mau mengalah. Moncong mobil saya tempel depan mobilnya. Mobil dia lebih besar, dengan plat nomor polisi dan atribut polisi lainnya, sepertinya sudah perwira. 15 menit kami tak bergeming. Mesin mobil kemudian saya matikan. Kalau perlu saya tunggu sampai pagi. 5 menit kemudian, dia mundur. Saya menang, dia mengalah. Entah kenapa, padahal dia bisa punya pistol. Mungkin dia pikir saya kurang waras karena berani-beraninya menghadang polisi, atau mungkin mengira saya tentara, lebih galak.

Sebulan yang lalu, giliran saya versus ayam. Untungnya, bukan ayam milik polisi, karena komplek rumah saya memang dekat komplek polisi. Sudah diklakson ayamnya gak mau minggir. Saya tetap maju. Akhirnya ayam yang gak mau mengalah itu mati kelindes ban mobil. Kena deh dipalak, sama empunya ayam saya diminta 3 kali lipat saya bayar ganti rugi harga sepotong ayam di supermarket. Karena ayamnya betina.

Sejak kematian si ayam, saya seperti mendapat hidayah. Untung nyawa ayam, kalau nyawa manusia? Pasti panjang masalahnya. Nyawa manusia tak terbeli. Saya bisa kena hukuman berat karena kelalaian di jalan raya. Ketok-ketok meja. Naudzubillah Min Zalik.

Hari berikutnya, saya berjanji untuk menahan diri, dan belajar mengalah di jalan raya. Ada ayam mau nyebrang, saya tunggu. Kalau lambat jalannya saya hus hus. Ada motor mau nyebrang saya mengalah. Kalau lambat, saya hus hus juga. Ada mobil mau nyerobot, saya buka kaca. Bukan mengumpat lagi, tapi kasih senyum dan kasih tangan memberi jalan. Syukur-syukur perempuan cantik, dibalas senyuman manis. Ahh..rasanya hidup jadi lebih berkah dan indah.

Ndilalah, setelah seringkali mengalah. Saat saya butuh untuk mendahului atau menyelak, orang lain juga memberi jalan. Saya jadi melihat dunia dari sisi yang berbeda, orang Jakarta ternyata murah hati. Berubah total dari sebelumnya yang brangasan. Saya menemukan makna dari mengalah. Ternyata mengalah itu memberikan kesejukan hati, menambah pahala, melapangkan rejeki dan memperkaya rasa. Dalam konteks jalan raya, mengalah adalah berbagi jalan, agar jalan raya tidak menjadi hutan belantara dan menjadi sahabat bagi semua pemakai jalan. Yuk..Mari berbagi jalan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: