Ketika Paw Piw Berpisah dengan Gadgetnya

Pawpaw (9) dan Piwpiw (8) menangis keras malam itu. Mereka dihukum. Gadgetnya ditarik sampai waktu yang belum ditentukan. Akhir akhir ini perilakunya semakin gak karuan, gak mau diganggu karena asik dengan gadgetnya, sering marah, dan kurang ajar sama orang yang lebih tua.

Puncaknya, malam tadi. Pawpaw minta dibukakan plastik makanan ke mamanya, tapi dilempar. Saya yang melihatnya terdiam. Ini sudah keterlaluan, gumam saya. Secepat kilat saya peringatkan dan nasihati anak laki-laki saya ini. Pawpaw ngambek dan merengek. Saya naik pitam. Saya tarik tangannya dan menyuruhnya tidur di luar kalau tidak suka dinasehati ayahnya. Suara keras saya keluar menggelegar. Tangisnya pun pecah. Piwpiw yang mendengar ikut menangis. Mamanya tertunduk, diam saja. Sedih dan bingung melihat kelakuan anak-anak super milenial ini.

Saat itu juga keluar fatwa saya untuk menyita semua gadget sampai mereka menjadi anak yang baik, santun dan nurut sama orang tua. Waktunya belum pasti, tapi perkiraan saya minimal sebulan.

Setelah emosi mereda, kami menasehati kedua buah hati tercinta. Bahwa tidak ada orang tua yang ingin menyakiti anaknya, bahwa apa yang kami peringatkan semua untuk kebaikan mereka, bahwa mereka harus berbuat baik agar orang lain juga berbuat baik kepada mereka, bahwa satu saat kami akan berpulang dan merekalah yang menjadi dewasa dan meneruskan nilai-nilai keluarga yang baik. Tak tahu apakah ini terlalu berat untuk anak SD kelas 3 dan 4 ini, tapi saya yakin ini waktunya untuk menyampaikan pesan-pesan itu.

Sambil masih sesegukan, dengan suara parau pawpaw dan piwpiw minta maaf kepada ayah dan mamanya. “Ayah, Mama aku minta maaf ya suka marah-marah, dan gak nurut. Aku janji gak marah lagi dan mau nurut.”
“Iya, ayah dan mama juga minta maaf ya paw, piw. Tapi gadgetnya tetap akan disimpan ayah ya sampai ayah lihat ada perubahan.” Mereka mengangguk, tanda setuju.

Bukan salah milenialnya kalau anak kurang ajar, tapi orang tuanya. Dunia digital yang penuh dengan kesenangan membuat kita dengan mudah menyerahkan gadget ke anak agar mereka tidak rewel. Agar keasikan kita bermain berbagai kesenangan di gadget juga tidak terganggu. Jadilah kita keluarga gadget. Duduk di satu ruang keluarga, dengan menatap gadget masing-masing. Asik sendiri-sendiri, menjadi mahluk sosial yang tidak bersosialisasi. Kita saja yang sudah dewasa dibutakan oleh digital era ini, apalagi anak anak.

Hari ini saya mau ajak anak-anak ke toko buku, membeli beberapa buku dan alat gambar. Semoga hari ini dan kedepannya adalah hari yang tetap mengasyikan, meski tanpa gadget. Sembari memberi saya waktu untuk belajar bagaimana mendidik anak di era digital.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: